Jumat, 07 Juni 2013

Escape


  “Hei… mau kan membantuku membersihkan bola di lantai 2?”Tanya Amarantha


“Tentu saja, di ruangan mana di lantai 2 nya?”tanyaku

“Di tempat biasa anak basket latihan”jawabnya

“oh… bagus itu sebagai anak basket kau harus rajin membersihkan bola”Kataku sambil mengacak-acak rambutnya, diapun menepis tanganku dan merapihkan rambutnya.

“Huft…. Aku kan piket”jawabnya, aku pun tersenyum.

“Baiklah, sampai bertemu saat istirahat di lantai 2”Lalu aku mencium keningnya dan pergi ke kelasku. Sesampai di kelas aku bertemu dengan temanku yang duduk di depanku,wajahnya sangat pucat dan tangannya diperban.

“Alex, apa yang telah terjadi padamu?”tanyaku.

“Aku digigit oleh anjingku, dia tiba-tiba menjadi gila dan menggigitku. Kata orang tuaku dia terkena penyakit anjing gila”Katanya sambil tersenyum lemah.

“Hei… aku rasa kau harus ke UKS deh…”kataku sambil memegang pundaknya. Dia menggeleng dengan lemahnya.

“Tidak, aku akan baik-baik saja. Tak usah mengkhawatirkanku”jawabnya.

“Kau yakin? Kau tampak tak sehat”kataku lagi meyakinkannya.

“Tidak sam, aku tidak apa-apa”jawabnya.

“Hmmm… baiklah jika begitu” lalu aku pun duduk di bangkuku. Tak lama kemudian bel berbunyi dan Pak Joe pun masuk.

“Baiklah anak-anak buka halaman 143”Katanya, akupun membuka halaman 143. Aku menatap Alex yang duduk di hadapanku, dia sedang terbatuk dan saat ia membuka sapu tangannya ada darah disitu, aku bangkit dan berdiri di sampingnya, aku melihat darah keluar dari hidungnya dan dari mulutnya saat terbatuk.

“Alex, kau harus ke UKS”kataku. Dia hanya menggeleng.

“Sam apa yang kau lakukan disitu? Kembali ketempat dudukmu”kata Pak Joe.

“Alex sakit pak, aku akan membawanya ke ruang UKS”jawabku.

“Baiklah, bawa dia ke UKS” lalu akupun membawa Alex ke UKS. Sesampainya di UKS aku langsung membaringkan dia di tempat tidur yang ada di UKS. 

“Jika kau sakit jangan terlalu memaksakan dirimu , Alex”kataku dia hanya mengangguk.

“Baiklah, aku akan ke kelas lagi. Tunggu saja aka nada guru yang kemari”kataku sebelum pergi. Lalu aku pun kembali ke kelas. Beberapa jam kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Aku segera keluar kelas dan naik ke lantai 2. Aku pun langsung masuk dan menemukan Amarantha sedang membersihkan bola.
“ayo sini bantu aku membersihkan bola”kata Amarantha. Aku pun duduk dan ikut membersihkan bola

“Kau membersihkan bola sebanyak ini sendirian?”tanyaku.

“tidak, biasanya ada temanku yang membantuku. Tapi dia sedang sakit hari ini.”jawabnya.

“Oh…” beberapa menit telah berlalu kami masih membersihkan bola basket. 

“Amarantha, aku ke kantin dulu ya… aku ingin beli minuman untuk kita” lalu akupun keluar dan menuruni tangga. Saat aku sampai di lantai 1 aku melihat orang-orang berlarian dan berusaha membuka pintu sekolah, tetapi tak bisa. Aku bingung apa yang telah terjadi? Banyak darah dimana-mana. Aku menarik seorang temanku.

“Ada apa, apa yang terjadi?”tanyaku.

“Ini berawal dari…”tiba-tiba seorang murid dengan darah di tubuhnya menyerang kami, kami berlari dan masuk ke sebuah ruangan yang agak sempit dan aku menguncinya.  Aku menyalakan lampu yang ada di situ ternyata ini adalah tempat di mana peralatan olahraga di simpan.

“Sekarang ceritakan padaku, apa yang telah terjadi”Kataku.

“awalnya, semua bilang ini perbuatan Alex, Alex menjadi gila dan tak terkendali dan menyerang semua guru dan murid. Aku rasa mereka semua menjadi zombie, aku melihat orang yang kira-kira setelah 10 menit menjadi zombie”Jelas Dean.

“Baiklah, kita akan keluar dari sini. Tetapi aku akan mengeluarakan kekasihku dulu”kataku, aku mengambil sebuah tongkat baseball dan Dean juga. Kami perlahan membuka pintu dan melihat situasi apakah aman atau tidak, dan aman. Kami pun berjalan perlahan dan menaiki tangga menuju lantai 2. Tiba-tiba aku mendengar suara raungan dan aku menengok ke belakang dan ternyata itu adalah zombie yang berlari menuju kea rah kami. Aku pun langsung memukulkan tongkat baseball itu kearah kepala zombie itu  dan zombie itu terjatuh dan tak lama kemudian bangkit lagi. Tak lama kemudian beberapa zombie muncul kembali  kali ini lebih banyak. Kami langsung berlari keatas dan sesampainya diatas kami mencoba membuka pintu tempat latihan basket dan ternyata di kunci. Aku meneriakan nama Amarantha berkali-kali, zombie itu mulai datang. Amarantha pun datang dan membukakan kuncinya, aku medengar suara teriakan Dean ternyata ia di gigit oleh zombie itu, saat pintu di buka aku langsung menarik Dean dan akhirnya kami masuk. Amarantha langsung mengunci pintunya. Kami menutup pintu itu dengan keranjang yang berisikan bola basket. Tangan Dean hampir putus, dan aku merobek seragamku dan mengikatkannya ke tangan Dean. Amarantha menangis, aku berusaha menenangkannya.

“Bagaimana cara kita keluar?”tangis Amarantha

“Aku akan cari jalannya”kataku. Tiba-tiba suara speaker terdengar.

“Gedung ini akan di hancurkan kurang dari 15 menit dan untuk siswa dan guru yang selamat tanpa terinfeksi, mohon segera keluar dengan cara apapun, karena semuanya sudah tersegel”kata orang yang di speaker itu. Aku merobek semua tirai yang ada di gedung itu dan mencari beberapa kain.

“Amarantha, bantu aku mengkikat semua ini” lalu Amarantha membantuku mengikatkan kainnya dan akhirnya menjadi kain yang sangat panjang. Lalu aku mengikatkan ujung  kain itu ke sebuah kursi . dan aku melemparkan kursi itu ke jendela sehingga kursi itu jatuh ke bawah.

“Amarantha cepat tu-… AHHH…” Dean! Ternyata dia sudah berubah menjadi seorang zombie dan ia telah menggigit lenganku, aku menendanya sampai terjatuh dan aku mengambil tongkat baseball ku dan menghajar kepalanya dengan tongkat baseball dengan kencangnya sehingga kepalanya retak. Aku melihat Amarantha menangis.

“S-sam k-kau…”

“Sudah Amarantha aku akan baik-baik saja cepatlah turun” aku mengecup keningnya.

“tenang saja aku akan memegangi talinya, dan aku akan segera turun”kataku. Ia pun berjalan menuju kain itu dan turun secara perlahan. Gedoran di pintu semakin kuat aku melihat pintu itu tak lama lagi tak akan kuat. Akhirnya Amarantha menginjakkan kakinya ke tanah, ia langsung di bawa oleh beberapa polisi keluar dari situ dan menuju pagar pembatas yang agak jauh dari gedung sekolah.

“Sam! Turunlah”Teriak Amarantha. Aku tersenyum kearahnya, aku menjatuhkan tali yang sedang ku pegang ke tanah.

“Sam!!! Apa yang kau lakukan?”Tanya Amarantha sambil menangis, aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tahu ini menyakitkan tapi ini yang terbaik. Biarkan aku tak bertemu dengannya asalkan dia baik-baik saja. Darah mulai keluar dari hidungku, mungkin tak lama aku akan menjadi seperti mereka. Tiba-tiba speaker berbunyi lagi.

“Gedung akan di hancurkan dalam 10…9…8…7…6”

“Amarantha!! Te Amo!”teriakku. ia menatapku dengan sedih. 

“5…4…3..2..”

“Te Amo, Sam!!”jawabnya.

“1”

aku mendengar suara ledakkan yang amat sangat keras dan aku merasakan panas di tubuhku. Dan bersama dengan ledakan itu, aku tiada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar