“Hei… mau kan
membantuku membersihkan bola di lantai 2?”Tanya Amarantha
“Tentu saja, di ruangan mana di lantai 2 nya?”tanyaku
“Di tempat biasa anak basket latihan”jawabnya
“oh… bagus itu sebagai anak basket kau harus rajin
membersihkan bola”Kataku sambil mengacak-acak rambutnya, diapun menepis
tanganku dan merapihkan rambutnya.
“Huft…. Aku kan piket”jawabnya, aku pun tersenyum.
“Baiklah, sampai bertemu saat istirahat di lantai 2”Lalu aku
mencium keningnya dan pergi ke kelasku. Sesampai di kelas aku bertemu dengan
temanku yang duduk di depanku,wajahnya sangat pucat dan tangannya diperban.
“Alex, apa yang telah terjadi padamu?”tanyaku.
“Aku digigit oleh anjingku, dia tiba-tiba menjadi gila dan
menggigitku. Kata orang tuaku dia terkena penyakit anjing gila”Katanya sambil
tersenyum lemah.
“Hei… aku rasa kau harus ke UKS deh…”kataku sambil memegang
pundaknya. Dia menggeleng dengan lemahnya.
“Tidak, aku akan baik-baik saja. Tak usah
mengkhawatirkanku”jawabnya.
“Kau yakin? Kau tampak tak sehat”kataku lagi meyakinkannya.
“Tidak sam, aku tidak apa-apa”jawabnya.
“Hmmm… baiklah jika begitu” lalu aku pun duduk di bangkuku.
Tak lama kemudian bel berbunyi dan Pak Joe pun masuk.
“Baiklah anak-anak buka halaman 143”Katanya, akupun membuka
halaman 143. Aku menatap Alex yang duduk di hadapanku, dia sedang terbatuk dan
saat ia membuka sapu tangannya ada darah disitu, aku bangkit dan berdiri di
sampingnya, aku melihat darah keluar dari hidungnya dan dari mulutnya saat
terbatuk.
“Alex, kau harus ke UKS”kataku. Dia hanya menggeleng.
“Sam apa yang kau lakukan disitu? Kembali ketempat
dudukmu”kata Pak Joe.
“Alex sakit pak, aku akan membawanya ke ruang UKS”jawabku.
“Baiklah, bawa dia ke UKS” lalu akupun membawa Alex ke UKS.
Sesampainya di UKS aku langsung membaringkan dia di tempat tidur yang ada di
UKS.
“Jika kau sakit jangan terlalu memaksakan dirimu ,
Alex”kataku dia hanya mengangguk.
“Baiklah, aku akan ke kelas lagi. Tunggu saja aka nada guru
yang kemari”kataku sebelum pergi. Lalu aku pun kembali ke kelas. Beberapa jam
kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Aku segera keluar kelas dan naik ke
lantai 2. Aku pun langsung masuk dan menemukan Amarantha sedang membersihkan
bola.
“ayo sini bantu aku membersihkan bola”kata Amarantha. Aku
pun duduk dan ikut membersihkan bola
“Kau membersihkan bola sebanyak ini sendirian?”tanyaku.
“tidak, biasanya ada temanku yang membantuku. Tapi dia
sedang sakit hari ini.”jawabnya.
“Oh…” beberapa menit telah berlalu kami masih membersihkan
bola basket.
“Amarantha, aku ke kantin dulu ya… aku ingin beli minuman
untuk kita” lalu akupun keluar dan menuruni tangga. Saat aku sampai di lantai 1
aku melihat orang-orang berlarian dan berusaha membuka pintu sekolah, tetapi
tak bisa. Aku bingung apa yang telah terjadi? Banyak darah dimana-mana. Aku menarik
seorang temanku.
“Ada apa, apa yang terjadi?”tanyaku.
“Ini berawal dari…”tiba-tiba seorang murid dengan darah di
tubuhnya menyerang kami, kami berlari dan masuk ke sebuah ruangan yang agak
sempit dan aku menguncinya. Aku menyalakan
lampu yang ada di situ ternyata ini adalah tempat di mana peralatan olahraga di
simpan.
“Sekarang ceritakan padaku, apa yang telah terjadi”Kataku.
“awalnya, semua bilang ini perbuatan Alex, Alex menjadi gila
dan tak terkendali dan menyerang semua guru dan murid. Aku rasa mereka semua
menjadi zombie, aku melihat orang yang kira-kira setelah 10 menit menjadi
zombie”Jelas Dean.
“Baiklah, kita akan keluar dari sini. Tetapi aku akan
mengeluarakan kekasihku dulu”kataku, aku mengambil sebuah tongkat baseball dan
Dean juga. Kami perlahan membuka pintu dan melihat situasi apakah aman atau
tidak, dan aman. Kami pun berjalan perlahan dan menaiki tangga menuju lantai 2.
Tiba-tiba aku mendengar suara raungan dan aku menengok ke belakang dan ternyata
itu adalah zombie yang berlari menuju kea rah kami. Aku pun langsung memukulkan
tongkat baseball itu kearah kepala zombie itu dan zombie itu terjatuh dan tak lama kemudian
bangkit lagi. Tak lama kemudian beberapa zombie muncul kembali kali ini lebih banyak. Kami langsung berlari
keatas dan sesampainya diatas kami mencoba membuka pintu tempat latihan basket
dan ternyata di kunci. Aku meneriakan nama Amarantha berkali-kali, zombie itu
mulai datang. Amarantha pun datang dan membukakan kuncinya, aku medengar suara
teriakan Dean ternyata ia di gigit oleh zombie itu, saat pintu di buka aku
langsung menarik Dean dan akhirnya kami masuk. Amarantha langsung mengunci
pintunya. Kami menutup pintu itu dengan keranjang yang berisikan bola basket.
Tangan Dean hampir putus, dan aku merobek seragamku dan mengikatkannya ke
tangan Dean. Amarantha menangis, aku berusaha menenangkannya.
“Bagaimana cara kita keluar?”tangis Amarantha
“Aku akan cari jalannya”kataku. Tiba-tiba suara speaker
terdengar.
“Gedung ini akan di hancurkan kurang dari 15 menit dan untuk
siswa dan guru yang selamat tanpa terinfeksi, mohon segera keluar dengan cara
apapun, karena semuanya sudah tersegel”kata orang yang di speaker itu. Aku merobek
semua tirai yang ada di gedung itu dan mencari beberapa kain.
“Amarantha, bantu aku mengkikat semua ini” lalu Amarantha
membantuku mengikatkan kainnya dan akhirnya menjadi kain yang sangat panjang. Lalu
aku mengikatkan ujung kain itu ke sebuah
kursi . dan aku melemparkan kursi itu ke jendela sehingga kursi itu jatuh ke
bawah.
“Amarantha cepat tu-… AHHH…” Dean! Ternyata dia sudah
berubah menjadi seorang zombie dan ia telah menggigit lenganku, aku menendanya
sampai terjatuh dan aku mengambil tongkat baseball ku dan menghajar kepalanya
dengan tongkat baseball dengan kencangnya sehingga kepalanya retak. Aku melihat
Amarantha menangis.
“S-sam k-kau…”
“Sudah Amarantha aku akan baik-baik saja cepatlah turun” aku
mengecup keningnya.
“tenang saja aku akan memegangi talinya, dan aku akan segera
turun”kataku. Ia pun berjalan menuju kain itu dan turun secara perlahan. Gedoran
di pintu semakin kuat aku melihat pintu itu tak lama lagi tak akan kuat. Akhirnya
Amarantha menginjakkan kakinya ke tanah, ia langsung di bawa oleh beberapa
polisi keluar dari situ dan menuju pagar pembatas yang agak jauh dari gedung
sekolah.
“Sam! Turunlah”Teriak Amarantha. Aku tersenyum kearahnya,
aku menjatuhkan tali yang sedang ku pegang ke tanah.
“Sam!!! Apa yang kau lakukan?”Tanya Amarantha sambil
menangis, aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tahu ini menyakitkan tapi ini
yang terbaik. Biarkan aku tak bertemu dengannya asalkan dia baik-baik saja. Darah
mulai keluar dari hidungku, mungkin tak lama aku akan menjadi seperti mereka. Tiba-tiba
speaker berbunyi lagi.
“Gedung akan di hancurkan dalam 10…9…8…7…6”
“Amarantha!! Te Amo!”teriakku. ia menatapku dengan sedih.
“5…4…3..2..”
“Te Amo, Sam!!”jawabnya.
“1”
aku mendengar suara ledakkan yang amat sangat keras dan aku
merasakan panas di tubuhku. Dan bersama dengan ledakan itu, aku tiada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar