Sabtu, 01 Februari 2014

Jane The Killer (Part 3) -END-





Aku sedang melihatnya berjalan pergi kemudian aku mendengar suara di sampingku, "selingkuh pada pacarmu ya?"

"sialan?! Aku berbalik ,terkejut. Itu  Marcy.


"dan tidak lain dengan saudaranya sendiri!" dia berpura-pura terkejut.

"diamlah!" teriakku. Kemudian aku menengok memastikan Liu tak mendengarnya. Dia tidak mendengarnya.

"ayo kita ke kelas." geramku.

Dua hari telah berlalu ponselku berdering. Ibuku mengangkatnya. Beberapa menit kemudian dia mematikannya dan berkata:

"Jeff akan keluar dari rumah sakit hari ini Jane."

Aku melihat kearahnya dan berkata, "itu bagus!"

"sepertinya kita mendapatkan makan malam gratis untuk beberapa hari!" ia tertawa kecil.

Beberapa jam telah beralu dan aku mendengar suara mobil melaju di jalan. Aku melihat keluar jendela dan melihat mobil jeff terparkir di depan rumah.

"jeff pulang” fikirku. Aku memilih melihatnya baik-baik, untuk melihat seperti apa rupanya. Ya tuhan ternyata aku telah salah.

Ayahnya keluar. Kemudian ibunya. Kemudian Liu. Tapi apa yang ku harapkan jeff tidak berubah dari apa yang kulihat. Dia memiliki rambut hitam panjang sebahu, putih, kulit yang terbakar, dan senyuman itu... senyuman itu adalah senyuman yang sama yangku lihat di kelas setelah ia mengalahkan Randy, Keith, and Troy.

Tapi jeff tepat melihat kearahku. Ke dalam mataku aku bisa melihat ke hampaan itu, mata yang sadis itu tepat membakar jiwaku. Aku masih gemetaran saat mengingat itu bahkan saat aku sedang mengetik ini. Dia terasa menatapku hampir sejam lamanya dengan senyuman itu dan pada akhirnya ia memalingkan wajahnya. Aku melihat nya masuk ke dalam rumahnya dengan orang tuanya. Aku bahkan tidak bernafas sampai akhirnya pintu di belakang mereka tertutup. Orang tuaku datang ke ruang tamu kemudian menanyaiku apa yang salah.

Jawabanku sangatlah panjang, keras, berteriak. Kemudian aku pingsan.

Ketika aku terbangun, sangat gelap di luar. Orang tuaku tak ada di kamar mereka. Rumahku sangalah sunyi. Aku bangun dan menuruni tangga. Aku memakai baju tidur terusan yang panjang yang tidak aku pakai sebelum aku pingsan. Aku turun dan menuju dapur. Lampunya menyala, sepert biasanya, orang tuaku selalu berkata padaku untuk mematikan lampu ruangan keia aku keluar

Ada sebuah catatan di meja.

Aku mengambilnya.

Goresan di kertas itu adalah:

''tidakkah kau ikut makan malam? Teman-temanmu ada disini juga."

Aku mulai bergetar. Aku menjatuhkan kertas itu. Aku pergi ke jendela ruang tamu dan melihat keluar. Lampu rumah jeff menyala. Aku tau aku harus kesana, tapi aku sangat ketakutan. Aku menggelengkan kepalaku kemudian menatap keluar jendela lagi. Aku melihat jeff berdiri di depan jendelan rumahnya melihat kearahku dengan pisau ditangannya danmengetuk-ngetuknya di jendela.

Tap. Tap. Tap.

Dia tersenyum.

Tap. Tap. Tap.

Aku mulai melangkah mundur dari jendela, tidak pernah mengalihkan pandanganku dari dia. Kemudian aku berbalik dari jendela dan berlari ke dapur. ketika aku mengendap-endap keluar dapur dan melihat keluar jendela diam-diam, yang aku lihat hanyalah bercak merah di jendela.

Aku berbalik melihat ke dapur. semuanya tampak normal. Bahkan pisaunya. Aku mengambil salah satu pisau itu dan memegangnya dengan erat. Kemudan aku menemukan ponsel dan mencoba menghubungi 911. Tapi ponsel itu tak ada sinyal. Aku tak tahu dimana ponsel ayah berada, atau mungkin sedang di perbaiki. Aku tak mau pergi ke atas dan mencarinya. Aku tidak ingin tiba-tiba di tikam dari belakang ketika sedang mencarinya dan jika aku pergi keluaruntuk meminta bantuan kepada tetangga, Jeff bisa saja membunuh atau memburu siapa saja yang berhubungan. Jadi hanya ada satu pilihan. Untuk mengahadpinya sendiri.

Ku genggam pisau itu lebh erat dan aku menuju pintu, memakai sepatuku, dan keluar. Tangan ku masih ada di gagang pintu saat ku melangkah keluar. Tapi aku tahu aku harus melakukannya. Aku melepas gagang pintu itu dan berjalan ke seberang jalan menuju rumah jeff.

saat aku mulai dekat dengan pintu rumahnya aku memperlambat kakiku. Lututku mulai bergetar, wajahku memucat, dan nafasku mulai tak teratur. sebelum aku tahu itu aku berdiri sepenuhnya masih di ambang pintu depan terengah-engah seperti anjing. Aku berusaha meraih gagang pintu meremasnya menutup mataku dan dan dengan cepat membukanya.

Aku berdiri di ambang pintu dengan pisau di tangan kananku dangagang pintu di tangan kiriku, terlalu takut untuk membuka mataku. Sampai aku mendengar sebuah suara, "sepertinya kau berhasil melakukannya. Aku senang kau berhasil, kawan." Aku membuka mataku. Kemudian berteriak.

Matanya sangat lebar dan tak berkedip, dan senyumannya berwarna merah. Dia telah mengukir senyuman di wajahnya! Pakaiannya berlumuran darah, kemudian aku pingsan.

Ketika aku bangun aku ada di meja makan. Pisauku hilang, ketika aku melihat keatas , aku melihat orang-orang duduk di meja. Mereka kedua orang tuaku, orang tua jeff, saudaranya liu, dan teman-temanku. Mereka semua mati. Dengan senyuman terukir di wajah mereka dan rongga merah besar di dada mereka. Bau tak tertahankan, tak terbayangkan ... tidak seperti bau yang pernah kucium sebelumnya. Itu adalah bau dari kematian.

Ak mencoba untuk berteriak tapi mulutku dibungkam oleh sesuatu  dan aku diikat di kursi. Aku melihat ke sekeliling ruangan tak percaya. Air mata mengalir dan bau dari tubuh-tubuh itu.

"lihat siapa yang akhirnya terbangun."

Aku memalingkan pandangan dan melihat kesebelahku. Jeff disana. Aku mencoba berteriak tapi mulutku di bungkam. Tiba-tiba ia berada di samping dengan pisau di tempelkan di leherku.

"Shhhhhhh, shush, shush, shush. Tidak sopan berteriak pada seorang teman." ia mulai menggeser pisau di wajahku. Terus menelusuri garis-garis terlihat dari sudut mulut ku sampai pipiku di senyum menyeringai besar. Aku menggigil saat ia melakukan hal ini. Ketika  aku berpaling darinya ia meraih bagian belakang kepala ku dan memaksaku untuk melihat adegan di meja. " Nah, sekarang, jangan kasar, kau menghina semua orang dengan tidak melihat wajah cantik mereka."


Aku kembali melihat ke arah meja, melihat kearah semua orang yang wajah nya tekah di ukir senyuman dan beberapa dari mereka dadanya masih mengeluarkan darah. air mata mulai mengalir di wajah ku dan aku mulai menangis.

"Awww apa yang salah?" Jeff mendengkur, " Apakah kau kecewa bahwa kau tidak terlihat cantik seperti mereka?"

Aku melihat kearahnya, mencoba mengerti apa yang ia bicarakan. Tapi aku berpaling ketika aku melihat wajahnya lagi dan melihat kembali ke meja.

"jangan khawatir, au akan membuatmu cantik juga. Bagaimana?" kemudian ia memindahkan pisaunya ke pembungkam mulutku dan memotongnya.

Aku membuang pembungkam itu dan melihat kearahnya tepat pada matanya, mencoba untuk menahan tatapannya. Dia memiringkan kepalanya ke samping sambil kembali menatap ku. Kemudian aku menutup mata ku dan berpaling darinya. Lalu aku bergumam dengan muram, "pergilah bangsat." kemudian aku berpaling untuk melihat dia lagi, " Kau Joker yang ditolak!"

Dia hanya tertawa di wajahku. Aku lebih suka saat ia hanya tersenyum.

"kau lebih lucu dibandingkan yang aku kira."

Dia mendekatiku. Aku berpaling lagi, merasakan napasnya menyentuh kulitku.

"teman melakukan apa yang teman suka kan? Baiklah aku akan melakukan yang kau suka."

Aku merasa dia melepaskan bagian belakang kepalaku. Ketika aku melihat kembali dia keluar dari ruangan. Aku melihat ke arah meja sekali lagi, melihat semuanya. Air mata mulai mengalir menuruni wajahku saat aku ingat keluargaku dan teman-teman yang tetap hidup hanya beberapa jam yang lalu. Aku masih menangis ketika jeff kembali.

"jangan mennagis." katanya, " Semuanya akan segera berakhir."

Aku menatap dia dan melihat dia memegang satu derigen pemutih dan sekaleng bensin.

Mataku melebar dan aku menatapnya kembali.

" Aku tidak punya alkohol, jadi ini harus dilakukan."

Lalu ia mulai menyiram aku dengan pemutih dan bensin.

" kita harus bergegas , Jane. Aku sudah menelepon pemadam kebakaran."

Kemudian ia mengeluarkan korek.

menyalakannya.

Kemudian melemparkannya ke arahku.

Api merebak secepat korek itu bersentuhan denganku. Aku berteriak sekeras mungkin. Rasa sakitny sangattak terbayangkan. Aku bisa merasakan daging mencair dari tubuh ku, panas menyerang setiap pori-pori di tubuhku. Darah menguap dalam pembuluh darah, dan tulang ku menjadi hangus dan rapuh.

Sebelum aku taksadarkan diri, aku mendengar tawa jeff, " Sampai jumpa temanku! Kuharap kau menjadi secantik aku! AHAHAHAHA!"

Dan kemudian semua menjadi gelap.

Ketika aku bangun Aku sedang duduk di tempat tidur rumah sakit, diperban dari kepala sampai kaki. Semuanya berputar, dan sakit untuk berkedip, dan bernapas.

Aku memandang sekeliling dan melihat ruang kosong. Aku mengerang keras karena mulutku diperban. Semua terasa sakit. Seorang perawat datang beberapa menit kemudian.

"Jane? Kau bisa mendengarku?"

Aku melihat ke arahnya. Ruangan mulai berputar.

" Jane, aku perawatmu, Jackie, aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini, tetapi, keluargamu tewas dalam kebakaran. Maafkan aku."

Air mata mulai turun dari wajahku lagi. Aku terisak.

"tidak sayang, jangan menangis. Kau takkan bisa bernafas jika kau menangis."

Aku tak bisa berhenti.

" Jane Aku akan memberikan sesuatu untuk membantumu menenangkan diri ok?"

Aku merasakan sesuatu berjalan ke dalam aliran darah ku, kemudian aku tertidur lagi.

Ketika aku bangun lagi aku bisa bergerak lebih banyak dan tubuhku tidak diperban seperti itu ketika pertama kali bangun. Aku memandang sekeliling dan melihat bahwa kamarku memiliki bunga di dalamnya. Ada yang segar, beberapa mati. Aku mencoba bangkit tapi seorang perawat datang dan menahan ku kembali turun."tenang Jane, Kau telah tertidur untuk sementara. cobalah ."

Aku mencoba berbicara. Suaraku keluar berat, dan serak. "berapa lama aku tertidur?"

"hampir 2 minggu. Kau ditempatkan di dalam koma induksi medis agar tubuhmu sembuh. Aku perawat yang sama melihat pertama kali kau bangun."

"berikan aku cermin." kataku.

"Jane, aku rasa itu tidak ak-"

"BERIKAN AKU CERMIN!"

Aku merasa cermin menempel di tanganku. Ketika aku melihat ke arah cermin aku menjatuhkannya ke lantai. pecahan cermin tidak berbeda jauh dengan hancurnya penampilan ku. Kulitku kasar dan coklat, akutak punya sehelai rambutpun, dan kulit di sekitar mataku kendur. Aku tampak hampir seburuk Jeff.

Semuanya datang membanjiri kembaliaku mulai menangis lebih kencang dari sebelumnya. Suster yang memelukku tidak dapat membuatku lebih baik. Pada puncak tangisanku, Aku terkejut bahwa tidak ada orang lain datang untuk menjenguk aku. Pada saat aku selesai, aku hampir tidak bisa berbicara.

Seseorang datang ke pintu.

" Permisi, Aku punya pemberian untuk "Miss Arkensaw '?"

"aku akan mengambilnya." Jackie berdiri dan mengambilnya. Aku tidak ingin orang pengirim itu melihat ku sehingga aku menatap dinding di depanku.

" Seseorang pasti peduli padamu Jane. Sepertinya orang yang sama yang mengirim semua bunga-bunga ini punyamu banyak kiriman."

Aku melihat ke sekeliling nya. Dia memegang paket kertas merah muda diikat dengan tali coklat. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya dari dia. Ketika aku mengambil paket yang darinya aku tahu ada sesuatu yang salah.

" Permisi tapi, boleh kah aku mendapatkan sesuatu untuk makan?" tanyaku semanis yang aku bisa

"tentu saja, aku akanmengambilkanmu makanan." Jackie tersenyum kembali, kemudiankeluar ruangan.

Tanganku gemetaran saat aku memegang pita itu dan menariknya. Kertas itu terlepas dan aku melihat sesuatu yang membuat darahku beku. Itu adalah topeng putih dengan hitam di sekitar mata dan senyum feminin hitam. Ini juga memiliki renda hitam menutupi lubang mata topeng, jadi meski orang menatapku mereka tak bisa melihat mataku, aku bisa melihat mereka. juga ada gaun hitam panjang, sarung tangan hitam, dan wig hitam cantik bergelombang. Seiring dengan semua hal ini, ada buket mawar hitam dan pisau dapur yang tajam.

Terpasang ke topeng itu juga ada catatan:

'"Jane, Maaf aku mengacaukan dengan berusaha untuk membuatmu cantik. Jadi aku memberikan kau topeng yang akan membiarkan kamu tampak cantik sampai kau lebih baik. Juga kau lupa pisaumu, Kupikir kau menginginkannya kembali."'

'-Jeff '

Pada waktu itu juga suster Jackie kembali, hadiahnya aku sembunyikan di balik bantal. Aku berkata padanya hadiahnya adalah bunga. Dia terlihat jijik lalu dia membuangnya keluar. Aku berterimakasih padanya untuk itu.

Malam itu, ketika semua orang tidur atau pulang, aku menyelinap keluar. Satu hal yang harus ku kenakan adalah gaun itu. Jadi aku memakainya dan menemkan sepatu yang cocok diluar, dilupakan oleh beberapa perawat yang ceroboh. Aku mengenakan wig untuk terlihat kurang mencolok.

Aku tidak tahu kemana aku pergi, dan aku tak peduli. Pada akhirnya aku berhenti, Aku berada di depan kuburan. Aku masuk ke dalam dan menemukan dua batu nisan. Isabelle Arkensaw and Gregory Arkensaw. Aku duduk di depan batu nisan mereka dan menangis sekali lagi. Ketika aku akhirnya bangkit, matahari mulai naik, dan begitu juga sebuah babak baru dalam hidupku. Aku mengambil topeng itu dan memakainya. Kemudian mengambil pisau dan memegangnya erat-erat seperti yang pernah kulakukan. Lalu aku berbalik dan menatap matahari terbit, pada hari itu aku bersumpah membalas dendam Ku atas Jeff the killer dan mengenakan nama baru ku "Jane Everlasting".satu hal yang ku mau adalah menjadi lebih kekal untuk Jeff dari kegilaannya menjadi kematiannya.

Sejak saat itu aku mencoba mencari jef dan membunuhnya

Memburunya .

Memburunya seperti dia adalah binatang.

Aku akanmenemukanmu jeff, dan aku akan membunuhmu.

Adapun foto yang telah bermunculan dari ku mengatakan: "jangan pergi tidur, atau kau takkan bangun lagi" yang cukup banyak menjelaskan yang ingin aku lakukan dengan korban Jeff, mencegah mereka dari menjadi korban di tempat pertama. Siapa pun yang mengatakan bahwa aku membunuh mereka sehingga mereka tidak terbunuh oleh Jeff adalah pernyataan yg berlebih-lebihan yang kotor.

jadi, ini ceritaku. Apakah kamu menerimanya sebagai fakta bukan hak bagi ku untuk memutuskan. Sekarang permisi, matahari akan turun, dan perburuan mulai sekali lagi.

Source:*Creepypasta.wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar