Aku membuka pintu kamar anak bungsuku yang
bernama Robby, dia tertidur dengan tenangnya di kasurnya, aku tersenyum melihat
malaikat kecilku yang tertidur dengan lelapnya. Aku kembali menutup pintu
kamarnya perlahan-lahan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara deritan
pintu. Aku berjalan kedapur untuk mengambil minum, saat aku berbalik tiba-tiba
Robby kecilku sudah berdiri di belakangku.
“Ya tuhan,
Sayang kau mengagetkanku”kataku sambil mengelus-elus dadaku. Robby hanya menatapku
dengan wajah polosnya.
“Kau mau
minum sayang?”tanyaku, Robby hanya mengangguk menanggapinya. Akupun
mengambilkan minum untuk Robby dan memberikannya ke Robby. Robby mengambil
gelas berisi air yang kuberikan kemudian ia berbalik dan berjalan menuju
kamarnya. Ia hanya anak kecil yang biasa saja, tapi ada hal yang aneh pada
dirinya, ia jarang berbicara, ia hanya menanggapi perkataan orang-orang dengan
bahasa tubuh saja. Aku sudah memeriksanya ke dokter, tapi dokter bilang ia
tidak bisu tak ada kelainan pada mulutnya. Aku hanya berfikir kalau Robby hanya
malu saja untuk bicara pada orang lain.
Keesokan harinya, aku membuatkan sarapan
untuk keluargaku. Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan masakkanku.
Aku segera membawa masakkanku ke meja makan dan menyiapkannya diatas piring.
Tak lama kemudian, suamiku Larson, anak sulungku Kurt dan anak bungsuku Robby
keluar dari kamarnya masing-masing. Larson mencium keningku dan ia duduk di
kursi dan anak-anakpun segera duduk dikursi.
“Kurt, kau
bilang akan ada ulangan matematika hari ini? Kau sudah belajar?”tanyaku. Kurt
mengangguk sambil mengunyah makanannya.
“bagaimana
denganmu Robby, apakah ada yang spesial di sekolahmu hari ini?”tanyaku, Robby
hanya menggeleng saja menanggapinya. Tak lama kemudian, Robby bangkit dari
tempat duduknya dan ia mengambil piringnya dan menaruhnya ke wastafel. Aku
menatap nya yang sedang berjalan menuju wastafel, secara fisik tak ada yang
salah dengan putraku ini,hanya saja ia jarang bicara dan itu sering
menjadi bahan permasalahan di
sekolahnya, Kurt sering bercerita bahwa Robby sering di bully oleh sekelompok
geng di sekolahnya tapi ia hanya diam saja. Memang benar, terkadang Robby
pulang dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.
“Aku selesai
bu”Kata Kurt, aku tersenyum
“Taruh saja
di wastafel sayang” lalu kurt melakukan apa yang aku suruh. Larsonpun sudah
selesai dengan makanannya dan ia menaruh nya di wastafel.
“Aku
berangkat kerja dulu ya sayang”Kata Larson. Ia pun mencium keningku.
“Ya, Kurt
Robby jangan lupa bekal makan siang kalian ada di dalam tas kalian ok?”kataku.
mereka mengangguk. setelah mereka pergi aku langsung melakukan pekerjaan rumah
yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga.
Malam ini bulan purnama, bulan terlihat lebih
besar mala mini dan itu sangat indah. Aku segera menyiapkan makan malam, dan
tak lama kemudian aku memanggil mereka untuk makan malam, mereka pun langsung
duduk di kursi, kami pun makan malam bersama.
“Kurt,
bagaimana hasil ulanganmu?”tanyaku
“bagus”jawabnya
singkat. Aku hanya mengangguk. selesai makan Robby dan Kurt langsung masuk ke
kamarnya masing-masing.
“Sarah, apa
kau fikir ada yang aneh dengan Robby?”Tanya suamiku. Aku menatapnya.
“Sebenarnya
iya, tapi aku hanya menanggapinya positif saja” jawabku.
“dia jarang
bicara, apa ada yang salah dengannya?”
“Tidak
sayang, dokter bilang dia baik-baik saja” Larson hanya diam saja dan ia
berjalan menuju kamar. Memang Robby jarang sekali bicara bukan jarang bahkan
tidak pernah. Selesai membereskan piring-piring, aku langsung masuk ke kamar
dan tidur.
Keesokan
harinya, saat aku mengambil Koran di depan rumah, aku melihat sebuah keributan.
Akupun pergi kesana, dan aku menanyakan apa yang telah terjadi. Tetanggaku
bercerita bahwa ada seseorang yang mati dan tubuhnya telah dikoyak seperti
habis di makan hewan buas. Aku bergidik ngeri mendengarnya. Aku pun langsung
pulang.
“Sayang, apa
yang telah terjadi?”Tanya suamiku.
“Ada yang
dibunuh”jawabku, mata suamiku membelak.
“Bagaimana
bisa?”
“Entahlah,
banyak yang bilang kalau ia dibunuh oleh binatang buas”
“Mungkin
saja”. Aku pun segera menyiapkan sarapan dan setelah itu seperti biasanya,
setelah mereka makan aku membersihkannya dan mereka pergi. Aku bingung jika
korban itu dibunuh oleh hewan buas, mana mungkin? Pemukiman kami jauh dari
hutan.
Setelah kejadian itu, penduduk mulai
menghilang atau tewas. Setiap malam para penduduk mengunci pintu dan jendela
rapat-rapat, agar sang pembunuh tak memasuki rumahnya. Pada malam itu,
persediaan makanan kami habis, aku keluar dan pergi ke mini market pada malam
itu. Saat aku sedang berbelanja, tubuhku langsung menegang, aku lupa mengunci
pintu sedangkan anggota keluargaku sedang pulas pulasnya tidur, bisa saja
mereka dibunuh oleh pembunuh itu. Selesai berbelanja aku buru-buru langsung
menuju rumahku. Aku memasuki rumahku dan rumahku dalam keadaan gelap. Aku
langsung mencari Kurt, Robby dan suamiku Larson. Mereka tidak ada di kamarnya,
mereka tidak ada dimana-mana. Aku mulai menyerah, aku mulai frustasi, aku
berlari menuju gudang yang ada di belakang rumahku, aku langsung membuka pintu
gudang, dan kunyalakan lampu di gudang. Sebuah pemandangan mengerikan
tersajikan di depan mataku, tubuh Suamiku dan Kurt telah tak bernyawa dengan
keadaan terkoyak, aku tak menemukan Robby aku hanya menemukan bajunya saja yang
telah bernodakan darah. Aku mendekap bajunya dan menangis.
tiba-tiba aku merasakan ada yang berdiri di belakangku, aku menengok dan berbalik ternyata itu Robby! Ada darah dimulutnya, darah di sekujur tubuhnya.
tiba-tiba aku merasakan ada yang berdiri di belakangku, aku menengok dan berbalik ternyata itu Robby! Ada darah dimulutnya, darah di sekujur tubuhnya.
“Kau tahu
bu, kenapa aku tak berbicara. Ini pertama kalinya aku berbicara, setiap kali
aku berbicara nafsuku akan membunuh dan memakan muncul ataupun saat aku membuka
mulutku. Dan saat itu mereka belum terlalu panjang dan lancip sehingga aku
tidak bisa membunuh ataupun memakan manusia bu. Tapi, setiap bulan purnama
mereka mulai tumbuh dan terus tumbuh. Hingga akhirnya kini mereka tumbuh dan
aku bisa membunuh” Katanya. Aku menatap Robby dengan perasaan ngeri. Kemudian,
ia memamerkan gigi-giginya yang sangat tajam seperti gigi hiu tapi lebih besar
seperti perangkap beruang.
“Kau sudah
melihat mereka kan bu. Dan mungkin sekarang aku bisa membunuh ibu karena aku
masih lapar bu.” Ia pun menutup pintu gudang dan semua nya menjadi gelap.
Original Write by:sam
*tolong jangan copas tanpa memberikan sumber blog ini. karna saya sudah susah payah menulisnya*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar