Jumat, 09 Agustus 2013

There Is Something Wrong With Robby




     Aku membuka pintu kamar anak bungsuku yang bernama Robby, dia tertidur dengan tenangnya di kasurnya, aku tersenyum melihat malaikat kecilku yang tertidur dengan lelapnya. Aku kembali menutup pintu kamarnya perlahan-lahan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara deritan pintu. Aku berjalan kedapur untuk mengambil minum, saat aku berbalik tiba-tiba Robby kecilku sudah berdiri di belakangku.



“Ya tuhan, Sayang kau mengagetkanku”kataku sambil mengelus-elus dadaku. Robby hanya menatapku dengan wajah polosnya.



“Kau mau minum sayang?”tanyaku, Robby hanya mengangguk menanggapinya. Akupun mengambilkan minum untuk Robby dan memberikannya ke Robby. Robby mengambil gelas berisi air yang kuberikan kemudian ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Ia hanya anak kecil yang biasa saja, tapi ada hal yang aneh pada dirinya, ia jarang berbicara, ia hanya menanggapi perkataan orang-orang dengan bahasa tubuh saja. Aku sudah memeriksanya ke dokter, tapi dokter bilang ia tidak bisu tak ada kelainan pada mulutnya. Aku hanya berfikir kalau Robby hanya malu saja untuk bicara pada orang lain.



   Keesokan harinya, aku membuatkan sarapan untuk keluargaku. Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan masakkanku. Aku segera membawa masakkanku ke meja makan dan menyiapkannya diatas piring. Tak lama kemudian, suamiku Larson, anak sulungku Kurt dan anak bungsuku Robby keluar dari kamarnya masing-masing. Larson mencium keningku dan ia duduk di kursi dan anak-anakpun segera duduk dikursi.



“Kurt, kau bilang akan ada ulangan matematika hari ini? Kau sudah belajar?”tanyaku. Kurt mengangguk sambil mengunyah makanannya.



“bagaimana denganmu Robby, apakah ada yang spesial di sekolahmu hari ini?”tanyaku, Robby hanya menggeleng saja menanggapinya. Tak lama kemudian, Robby bangkit dari tempat duduknya dan ia mengambil piringnya dan menaruhnya ke wastafel. Aku menatap nya yang sedang berjalan menuju wastafel, secara fisik tak ada yang salah dengan putraku ini,hanya saja ia jarang bicara dan itu sering menjadi  bahan permasalahan di sekolahnya, Kurt sering bercerita bahwa Robby sering di bully oleh sekelompok geng di sekolahnya tapi ia hanya diam saja. Memang benar, terkadang Robby pulang dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.



“Aku selesai bu”Kata Kurt, aku tersenyum



“Taruh saja di wastafel sayang” lalu kurt melakukan apa yang aku suruh. Larsonpun sudah selesai dengan makanannya dan ia menaruh nya di wastafel.



“Aku berangkat kerja dulu ya sayang”Kata Larson. Ia pun mencium keningku.



“Ya, Kurt Robby jangan lupa bekal makan siang kalian ada di dalam tas kalian ok?”kataku. mereka mengangguk. setelah mereka pergi aku langsung melakukan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga.



  Malam ini bulan purnama, bulan terlihat lebih besar mala mini dan itu sangat indah. Aku segera menyiapkan makan malam, dan tak lama kemudian aku memanggil mereka untuk makan malam, mereka pun langsung duduk di kursi, kami pun makan malam bersama.



“Kurt, bagaimana hasil ulanganmu?”tanyaku



“bagus”jawabnya singkat. Aku hanya mengangguk. selesai makan Robby dan Kurt langsung masuk ke kamarnya masing-masing.



“Sarah, apa kau fikir ada yang aneh dengan Robby?”Tanya suamiku. Aku menatapnya.



“Sebenarnya iya, tapi aku hanya menanggapinya positif saja” jawabku.



“dia jarang bicara, apa ada yang salah dengannya?”



“Tidak sayang, dokter bilang dia baik-baik saja” Larson hanya diam saja dan ia berjalan menuju kamar. Memang Robby jarang sekali bicara bukan jarang bahkan tidak pernah. Selesai membereskan piring-piring, aku langsung masuk ke kamar dan tidur.



Keesokan harinya, saat aku mengambil Koran di depan rumah, aku melihat sebuah keributan. Akupun pergi kesana, dan aku menanyakan apa yang telah terjadi. Tetanggaku bercerita bahwa ada seseorang yang mati dan tubuhnya telah dikoyak seperti habis di makan hewan buas. Aku bergidik ngeri mendengarnya. Aku pun langsung pulang.



“Sayang, apa yang telah terjadi?”Tanya suamiku.



“Ada yang dibunuh”jawabku, mata suamiku membelak.



“Bagaimana bisa?”



“Entahlah, banyak yang bilang kalau ia dibunuh oleh binatang buas”



“Mungkin saja”. Aku pun segera menyiapkan sarapan dan setelah itu seperti biasanya, setelah mereka makan aku membersihkannya dan mereka pergi. Aku bingung jika korban itu dibunuh oleh hewan buas, mana mungkin? Pemukiman kami jauh dari hutan.

     Setelah kejadian itu, penduduk mulai menghilang atau tewas. Setiap malam para penduduk mengunci pintu dan jendela rapat-rapat, agar sang pembunuh tak memasuki rumahnya. Pada malam itu, persediaan makanan kami habis, aku keluar dan pergi ke mini market pada malam itu. Saat aku sedang berbelanja, tubuhku langsung menegang, aku lupa mengunci pintu sedangkan anggota keluargaku sedang pulas pulasnya tidur, bisa saja mereka dibunuh oleh pembunuh itu. Selesai berbelanja aku buru-buru langsung menuju rumahku. Aku memasuki rumahku dan rumahku dalam keadaan gelap. Aku langsung mencari Kurt, Robby dan suamiku Larson. Mereka tidak ada di kamarnya, mereka tidak ada dimana-mana. Aku mulai menyerah, aku mulai frustasi, aku berlari menuju gudang yang ada di belakang rumahku, aku langsung membuka pintu gudang, dan kunyalakan lampu di gudang. Sebuah pemandangan mengerikan tersajikan di depan mataku, tubuh Suamiku dan Kurt telah tak bernyawa dengan keadaan terkoyak, aku tak menemukan Robby aku hanya menemukan bajunya saja yang telah bernodakan darah. Aku mendekap bajunya dan menangis.
   tiba-tiba aku merasakan ada yang berdiri di belakangku, aku menengok dan berbalik ternyata itu Robby! Ada darah dimulutnya, darah di sekujur tubuhnya.



“Kau tahu bu, kenapa aku tak berbicara. Ini pertama kalinya aku berbicara, setiap kali aku berbicara nafsuku akan membunuh dan memakan muncul ataupun saat aku membuka mulutku. Dan saat itu mereka belum terlalu panjang dan lancip sehingga aku tidak bisa membunuh ataupun memakan manusia bu. Tapi, setiap bulan purnama mereka mulai tumbuh dan terus tumbuh. Hingga akhirnya kini mereka tumbuh dan aku bisa membunuh” Katanya. Aku menatap Robby dengan perasaan ngeri. Kemudian, ia memamerkan gigi-giginya yang sangat tajam seperti gigi hiu tapi lebih besar seperti perangkap beruang.



“Kau sudah melihat mereka kan bu. Dan mungkin sekarang aku bisa membunuh ibu karena aku masih lapar bu.” Ia pun menutup pintu gudang dan semua nya menjadi gelap.

Original Write by:sam
*tolong jangan copas tanpa memberikan sumber blog ini. karna saya sudah susah payah menulisnya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar