Sabtu, 01 Februari 2014

Jane The Killer (Part 2)





Aku meninggalkan surat itu di mejanya dengan tulisan tertanda “J” sebelum kelas dimulai,kemudian aku meniggalkan ruangan. Ketika aku masuk kembali jeff sudah ada di bangkunya dan catatan itu hilang.

Hari sabtu datang dan aku sendirian dirumah saat orang tuaku sedang bekerja
. anak di sebelah rumah sedang berulang tahun. Pada saat itu aku membiarkan jendelaku terbuka karena aku ingin udara dingin masuk ke dalam kamarku saat aku sedang mengerjakan Prku. Tapi suara anak-anak sangat keras sehingga aku mendekati jendelaku. Dia sedang berlarian memakai topi koboy palsu dan membawa senjata mainan. Dia terlihat sangat aneh sehingga aku tertawa.

“Mungkin dia bukan seorang monster seperti apa yang aku pikirkan”fikirku. Malu pada diriku sendiri karena telah mencurigai bahwa ia monster.

Saat aku akan menutup jendela kau melihat Randy dengan kawan-kawannya menaiki skateboard menuju tempat dimana jeff berada

“Tidak lagi”kataku membuka jendela.

Aku melihat jeff dan randy terlibat dalam sebuah pembicaraan kecil tapi aku tak dengar apa yangmereka katakan karena teriakan anak-anak. Kemudian Randy berlari ke arah jeff dan menjatuhkannya. Aku hampir ingin mengambil handphone dan menelfon 911ketika aku mendengar Troy dan Keith berteriak “jangan ada yang mengganggu atau nyawa kalian akna terbang!” aku melihat keluar jendela lagi dan melihat mereka membawa senjata di tangan mereka.
Aku tidak bisa memanggil bantuan tanpa membahayakan jiwa orang. Aku tidak bisa menelfon 911 lagi, batrai ponselku sudah habis.

Jeff ada disisinya ketika Randy akan menendang wajah Jeff ia memuntir kakinya .Randy terjatuh ke tanah dan jeff berusaha masuk ke rumah lalu Troy memegang kerah bajunya dan melemparnya ke arah rumah. Aku mendengar kaca pecah aku tahu mereka akan membunuhnya.

“Randy kau bangsat!” aku berteriak ke arahnya. Tapi ia tak bisa mendengarku karena teriakan anak-anak.

Aku tidak bisa menunggu lagi, akupun berlari menuju kamar orang tuaku mencari ponsel ayahku, berharap ia lupa membawnya. Jantungku bertedak dengan keras di dadaku. Tahu bahwa semakin lama kau memanggil bantuan. Semakin tinggi kesempatan orang akan mati pada saat  itu juga. Akhirnya aku menemukan ponsel ayahku dibawah bantal. Tak ada waktu lagi aku langsung memencet nomornya.

“911 ada yang bisa dibantu?”

“aku butuh bantuan keadaan darurat terjadi di rumah sebelahku!seseorang berkelahi! Mereka membawa senjata cepatlah!”

“baiklah nona kau harus memberitahu kami alamatnya dan aku akan mengirimkan bantuan secepatnya”

Aku cepat-cepat memberitahunya alamatku dan alamat rumah sebelahku.

“aku mohon cepatlah!”kataku.

“baiklah tetaplah di-BANG BANG BANG!

Aku mendengar suara tebakan yang sangat keras dari rumah sebelah.  Aku terkejut dan menjatuhkan ponsel, ponselnya jatuh ke lantai dan rusak. Kemudian aku berlari menuju jendela kamarku mencoba melihat apa yang telah terjadi. Tapi kemudian saat aku mengeluarkan kepalaku keluar jendela aku mendengar suara semburan api dan teriakan... aku akan membuat Jeff berteriak seperti itu lagi ketika aku menjumpainya. Satu-satunya hal yang saya dapat membandingkannya dengan sesuatu adalah teriakan kematian binatang. Itu adalah waktu yang sangat menakutkan. Tapi sekarang itu terdengar seperti musik bagiku dan tidak ada yang aku ingin dengar lebih banyak di dunia daripada dia berteriak.

Aku melihat api keluar dari rumah itu seperti naga. Aku berlari menuruni tangga secepatnya dan mengambil pemadam api dari dapur dan segera berlari keluar. Saat akuberlari aku mengeluarkan pin untuk menggunakan pemadam api itu . untungnya pintu tak terkunci aku langsung masuk dan saat aku melihat keadaan jeff, aku terdiam membeku.

Dia berbaring di bagian bawah tangga hampir sepenuhnya terbakar dengan orang orang yang mencoba memadamkannya. aku melihat potongan-potongan kulitnya melalui semua keributan. Beberapa bagian berwarna pink, Beberapa bagian hangus, tapi semuanya tertutup warna merah. Melihat semua ini aku menjerit lalu aku pingsan. Hal terakhir yang aku ingat adalah beberapa orangberlari kearahku. Entah ingin membantuku atau mengambil pemadam api aku tak tahu.

Saat aku bangun aku berada di rumah sakit berbaring di tempattidur memakai pakaian yangd dipakai seorang pasien. Seorang perawat taklama kemudian datang. Dia memiliki rambut coklat panjangia gulung di bawah topinya. Dia terlihat tidak ingin berada di situ . aku bertanya apa yangtelah terjadi.

" Semua aku tahu adalah bahwa kau dibawa dengan beberapa anak-anak lain karena kau jatuh dan kepalamu menghantam pemadam api “ katanya, kesal.

"pemadam api?" aku mengangkat tanganku dan memegang kepalaku. Aku merasakan perban dan benjolan besar ukuran jeruk. Kemudian aku ingat jeff. "seseorang yang datang bersamaku, dia terbakar, apakah ia akan baik-baik saja?"

Ia mendesah, " dengar, ada dua anak yang dibawa dengan mu yang memiliki luka bakar, dan tidak ada aku tidak akan membiarkan kau melihat dia hanya karena ia adalah pacar mu."

Aku merasa wajahku memanas. "dia bukan pacarku! Aku hanya mengkhawatirkannya! Tidakkah kau khawati saat seseorag terbakar dihadapanmu?!" aku mencoba agar suaraku tetap normal, tapi suara ku bergetar danterlihat sekali bahwa aku berbohong.

"terserah. Ngomong-ngomong orang tuamu ada disini. Ingin bertemu dengan mereka?" tanyanya.

"ya tentu saja!" apa saja yang membuatku menjauh dari suster itu.

Orang tuaku masuk dan akhirnya suster itu pergi. Mereka bertanya apa yang terjadi. Aku menceritakan semuanya. perkelahian, catatan, semuanya.

"aku tahu bahwa Randy itu tak baik!" kata ibuku.

"jadi apakah kalian sudah mendengar tentang keadaan jeff?" tanyaku.

"tidak, belum," kata ayahku, "kami langsung kemari secepat mungkin saat kami tahu apa yang telah terjadi padamu ."

"tapi siapa yang memberitahu ayah?" tanyaku. Aku rasa aku tidak melihat siapapun yang di kenal orang tuaku.

"rumah sakit menelfon kami." Kata ibu.

"yah, itu masuk akal." Itu tidak masuk akal bagiku. Bagaimana seseorang bisa mengenalku tanpa menanyaiku identitasku.

Aku melihat ke arah ambang pintu dan ada seorang wanita dan pria berdiri disitu. Orang tuaku mengikuti arah tatapanku dan mereka melihat mereka juga.

"permisi, apakah ini ruangan Jane Arkensaw?" tanya wanita itu.

"ya." Jawab ibuku, "siapa kau?"

"aku Margret, dan ini Peter, suamiku." Dia menunjuk pria yang ada di sampingnya. "kami orang tua jeff."

Aku duduk di kasurku.

"aku Isabelle, ini adalah suamiku Greg, dan anak kami Jane." Ibu menunjukku.

"jadi, kau adalah gadis yang berlari masuk  dengan pemadam api." Kata margaret.

"ya." Jawabku singkat, malu. "apakah putramu baik-baik saja?"

"dia baru saja keluar dari ruang perawatan. Dokter bilang ia akan baik-baik saja."

Aku lega ats pernyataan itu. "itu bagus." kataku. "Dengar. Aku tahu apa yangtelah terjadi pada jeff  dan liu pada hari pertama mereka masuk sekolah..." kemudian aku memberi tahu orang tua jeff tentang Randy dan kawan-kawan.

"kami tak tahu bahwa jeff bisa sampai seperti ini." Kata Peter.

" aku bersedia untuk bersaksi bahwa Liu tidak memukuli orang dan  Jeff  hanya memukuli Randy dan gengnya hanya untuk membela diri."

"tak perlu," kata Margret, "Liutelah keluar dari penjara setelah apa yang terjadi pada anak anak lelaki itu"

"itu bagus." kataku.

"kami kemari hanya ingin berterimakasih karena telah menyelamatkan anak kami, Jane. Itu menghangatkan hatiku untuk melihat orang tanpa pamrih di generasi mu."

Aku tersipu, " aku melakukan apa pun yang siapa pun yang akan dilakukan dalam situasi ku." Aku menunduk, "aku bukanlah pahlawan."

"omong kosong!" kata Margaret, "yang bisa kami lakukan hanya mengundangmu untuk makan malam ketika Jeff sudah keluar dari rumah sakit!"

Aku melihat ke arah ayah dan ibuku. " Ini akan menjadi suatu kehormatan." Kata ibuku.

" Sudah beres! Kami akan menghubungmu ketika jeff sudah keluar dari rumah sakit." Kami mengucapkan selamat tinggal dan kemudian mereka pergi.

Sekitar 2 hari aku sudah diperbolehkan untuk keluardari rumah sakit. Selama waktu itu aku tidak punya kontak dengan jeff atau keluarganya, tapi aku mendengar bahwa liu telahkeluar dari penjara dan luka jeff sudah mulai sembuh.

Ketika aku kembali bersekolah, aku menjadi pusat perhatian, yang bukan lain karena aku satu-satunya orangyang melihat apa yang sebenarnya terjadi di pesta itu. Tapi orang yang ku beritahu hanyalah teman baikku: Dani, Marcy, and Erica. Aku tak tahu apa yang harus ku beritahu jadi kuputuskan untuk memberitahu apa yang telah kulihat.

"kedengarannya seperti jeff telah diselamatkan." kata Dani, dia mempunyai dia mempunyai rambut berwarna Raven-black dengan mata biru-saphire. Dia biasanya paling tinggi tingkatnya diantara kami.

"yah setidaknya dia memenangkan perkelahian itu. Akudengar dia membawa orang idiot itu kerumah sakit beramanya." Kata Erica. Dia selalu berpakaian seperti orang yang berasal dari tahun 80 atau sesuatu. Panjang,kaus kaki tingginya yang berwarna warni, dan cocok dengan rambutnya, dan selalu memakai ransel.

"dia juga membawa Jane ke rumah sakit. Mungkin dia mencoba untuk mengalahkan dia juga." Marcy tertawa. Dia terlihat seperti "gadis feminim" di dalam grup kecil kami. Rambut pirangnya dengan warna matat coklatnya, dan setiap kali kami melihatnya,dia selalu mempunyai benda berwarna pink. Apapun warna bajunya, atau perhiasan disekitar lehernya, dan dia adalah ratu-drama yang paling hebat. selalu mengeluarkan kebenaran atau meniup sesuatu keluar dari proposi.

"ku beritahu, aku pergi kesana untuk mencoba  dan membantu jeff karena ada sesuatu yang salah." gumamku. Aku adalah jane si perencana, rambutcoklat, mata hijau, Benar-benar biasa-biasa saja terlihat bijaksana.

"atau mungkin... kau ingin melihat cintamu untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi untuk pergi mendapatkan bantuan untuk dirinya sendiri." Kata Marcy dengan suama dramatic nya.

Aku hanya mentapnya dengan mata selebar ukuran piring makan.

"ap... apa?"

"kau tak bisa memungkirinya Jane Arkensaw! Kau jatuh cinta pada Jeff !"

Setiap sel darah dalam tubuh ku memutuskan untuk bermigrasi ke wajahku sekaligus ketika dia berkata itu.

"apa?! tidak! aku h-hanya ingin membantunya itu saja!"

"pembohong! Aku melihatmu meninggalkan catatan itu di mejanya! Apa itu? Ungkapan cintamu padanya?"

"tidak! Tidak seperti itu! Itu hanya-"

"jadi kau mengakau bahwa kau meninggalkan catatan itu di bangkunya!"

"apa maksudmu?"

"aku hanya menebak." Dia memberikan senyum kecil sinis dan kemudian hanya menunggu tanggapan ku.

Gadis-gadis yang lain mulai menertawaiku.

"Jane itu hanya candaan! Aku hanya bercanda!" Marcy tersenyum.

"wajahmu lebih merah daripada tomat!" Erica tertawa.

"aku membenci kalian semua." gerutuku.

"Oh, berhentilah menganggapnya serius!" Dani menaruh tangannya dip pundakku. "ayo, kita ke kelas."

Beberapa minggu telah berlalu, semuanya tampak normal. Aku rasa Liu telah mempunyai beberapa teman. Semuanya normal tak ada yang terjadi. Kemudian suatu hari liu mendatangiku dan berbicara tentang jeff.

"permisi, namamu Jane benar?"

Aku berbalik dan melihat. Itu  Liu.

"ya. kau Liu benar? Saudara Jeff?"

"Yeah." Dia terlihat sedikit  tak nyaman. Tetapi sekali lagi begitu juga aku. "dengar orang tuaku ingin memberitahu kau bahwa Jeff akan melepas perbannya beberapa hari yang akan datang, jadi harapkan telefon mngundangmu untuk makan malam."

"Okay, baiklah, trimakasih." kataku.

Dia akan berbalik kemudian aku berkata, "Hey, dengar, apa yang telah kau lakukan untuk jeff... Itu sungguh terhormat."

"terimakasih. Aku dengar kau mencoba menolong saudaraku dengan pemadam api. Itu keren."

"benarkah? Baiklah terimakasih. Sampai jumpa lagi, aku rasa."

"Yeah, sampai jumpa." 

Source:*Creepypasta.wiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar